Selasa, 16 Oktober 2012




Nama maskapai penerbangan ini kurang dikenal, namun NNGLM “Kroonduif”sudah terbang, membuka dan melayani jalur penerbangan perintis di Papua jauh sebelum adanya jembatan udara Merpati Nusantara.

Nama Pa

pua dulunya lebih dikenal sebagai Niew (New) Guinea, sebuah kepulauan terbesar kedua di dunia yang saat ini terbagi dua, Papua sebagai bagian dari Indonesia (sebelah barat) dan Papua Nugini (sebelah timur). Nama ini diberikan oleh penjelajah Spanyol, Ynigo Ortiz de Retez pada 1545. Dia bahkan sempat menjelajah sampai muara Sungai Mamberamo. Di matanya daerah ini memiliki kesamaan alam dengan Guinea di pantai barat Afrika.

Nama Irian mulai dipopulerkan pada tahun 1945 oleh tokoh pejuang kemerdekaan Marcus dan Frans Kasiepo. Nama itu kemudian diganti menjadi Irian Barat sebelum kampanye Trikora dan menjadi Irian Jaya setelah menjadi bagian dari Indonesia. Namanya kembali diganti saat era pemerintahan Abdulrahman Wahid menjadi Papua hingga saat ini.

Belanda menguasai bagian barat—sementara Inggris menguasai bagian timur pulau Papua—dan memasukkannya ke dalam wilayah Hindia Belanda pada 1828. Bentang alamnya luar biasa, hutan tropis pekat, sungai cukup dalam, dan lembah beserta gunung berselimutkan salju abadi. Tapi di dalamnya kekayaan alamnya juga luar biasa khususnya di Kepala Burung (Vogelkop).

Satu-satunya cara untuk mengeksploitasinya adalah melewati jalur udara. Perusahaan minyak Shell, Texaco, dan Standard Oil membentuk konsorium NNGPM (Nederlands Niew Guinea Petroleum Maatschappij) untuk mendapatkan konsesi eksplorasi tambang minyak. Tapi sebelumnya harus dilakukan pemetaan udara terlebih dahulu dengan mengontrak maskapai Hindia Belanda KNILM. Pesawat yang terlibat dalam pemetaan sekaligus sebagai pesawat komersil/carter pertama yang terbang di wilayah Papua adalah de Havilland DH-89 Dragon Rapide pada tahun 1935. NNGPM membangun lapangan terbang Babo yang terletak di Teluk Bintuni sebagai base untuk tugas ini.

Tahun berikutnya NNGPM memutuskan menggunakan pesawat amfibi Sikorsky S.38 agar tidak perlu membangun lapangan terbang yang banyak dan cukup mengandalkan sungai atau pantai untuk operasional. Sayangnya walaupun sukses, hasil pemetaan udara itu tidak bisa digunakan untuk eksplorasi karena keburu pecah Perang Pasifik.

Merpati bermahkota

Pasca Perang Pasifik dan pengakuan kedaulatan Indonesia lewat KMB 1949, wilayah Papua masih merupakan bagian dari koloni Belanda. Transportasi udara dinilai paling efisien dan cepat untuk menghubungkan kota atau desa terpencil di seluruh Papua, walaupun kondisi cuaca dan kontur wilayahnya patut diwaspadai bagi setiap penerbang perintis ini.

Pesawat kecil Cessna 180 milik KLu (AU Belanda) atau milik misionaris menjadi andalan transportasi di Papua tapi jumlahnya sedikit dan tidak rutin. Karena itulah pemerintah setempat dengan bantuan investasi dari KLM mendirikan maskapai penerbangan pada tanggal 14 Juli 1955 bernama Nederlands Niew Guinea Luchtvaart Maatschapij (NNGLM) atau yang dikenal sebagai Kroonduif (De Kroonduif NV), atau Merpati Bermahkota, burung endemik Papua. KLM memiliki kepentingan di sini karena memiliki rute ke Biak dengan Lockheed Constellation sebelum terbang menuju ke Sydney. Dengan NNGLM, penerbangan dapat diteruskan ke seluruh wilayah Papua ditambah kota-kota di Papua Nugini dari Lapangan Terbang Biak-Mokmer sebagai Pusat Operasi.

Sebagai modal pertama adalah dua unit de Havilland DHC-2 Beaver beregistrasi JZ-PAA dan JZ-PAB. Kemudian ditambah JZ-PAC dan JZ-PAD pada 25 September 1956. Oleh Kroonduif, pesawat single engine kapasitas 2-3 penumpang ini dijadikan pesawat amfibi (Sea Beaver) dengan memasang sepasang floatagar agar dapat beroperasi di perairan/pantai. Sayangnya setahun kemudian, terjadi kecelakaan yang pertama dialami Kroonduif. JZ-PAB jatuh saat survei di pantai dekat Merauke, tiga dari empat kru meninggal dunia. Kroonduif menggantinya dengan JZ-PAE yang operasional sejak 14 Mei 1961. (Sudiro Sumbodo, pemerhati penerbangan)

0 komentar:

Posting Komentar